Surya Paloh
Surya Paloh

Ketua Umum Partai NasDem Surya Paloh bisa dibilang sedang meluapkan kekecewaan dengan masuknya Gerindra ke Kabinet Jokowi-Ma’ruf. Kemarin akhirnya Paloh berkunjung ke markas PKS di Jakarta Selatan.

Meskipin mereka saling menghormati posisi politik masing-masing, dimana PKS ada di luar pemerintahan, dan NasDem ada di dalam pemerintahan. Kunjungan tersebut tidak lepas dengan konteks politik akhir-akhir ini.

Peneliti departemen politik dari Center for Strategic and International Studies (CSIS), Arya Fernandes, melihat kunjungan Surya Paloh tak bisa dilepaskan dari konteks politik dewasa ini.

NasDem sebagai partai yang sedari awal mendukung Jokowi punya pandangan soal pentingnya ‘oposisi’ dalam demokrasi. Namun akhirnya, Partai Gerindra yang selama ini menjadi seteru Jokowi justru masuk ke koalisi pemerintahan. Partai Gerindra yang semula menjadi kubu oposisi kini sudah diberi dua kursi menteri.

“NasDem mengirimkan kode keras kepada partai-partai di koalisi dan Istana, bahwa NasDem tidak terlalu happy dengan proses pembentukan kabinet,” kata Arya kepada wartawan, Kamis (31/10/2019).

NasDem berani mengirimkan kode keras seperti itu karena NasDem punya kontribusi besar untuk kemenangan Jokowi-Ma’ruf Amin di Pilpres 2019. Selain itu, NasDem juga punya 59 kursi di DPR atau 10,3% kursi. Jumlah kursi sebesar itu adalah posisi tawar yang baik untuk NasDem di mata pemerintahan Jokowi.

“Dia kirim pesan yang keras ke Istana dan PDIP (partai pemenang pemilu nomor 1), bahwa NasDem bisa saja menjadi suatu kekuatan penting di DPR dalam rangka melakukan kritik terhadap pemerintah,” kata Arya.”Dia juga sadar, publik membutuhkan satu partai yang punya posisi sebagai pengontrol pemerintah, dan peran itu diambil PKS,” imbuhnya.

NasDem sempat mengutarakan pandangannya sebelum Prabowo Subianto dilantik menjadi Menteri Pertahanan di Kabinet Jokowi. Sekretaris Jenderal NasDem Johnny G Plate (kini juga menjadi Menkominfo) pernah menyampaikan bila mekanisme checks and balances hilang maka semua akan rugi, yakni rakyat rugi dan Gerindra juga rugi.

Namun demikian, NasDem menyatakan akan menerima apapun keputusan Jokowi selaku Presiden. Prabowo bahkan sudah berkunjung ke kediaman Surya Paloh. Dan benar, akhirnya Prabowo masuk ke kabinet Jokowi. Paloh dan Prabowo nampak akrab di pelantikan wakil menteri Kabinet Indonesia Maju, 25 Oktober kemarin.

Penilaian dari Arya Fernandes bahwa NasDem tidak bahagia dengan masuknya Gerindra ke kabinet belum tentu benar. Soalnya, NasDem melalui Sekjen Johnny sudah menyampaikan bahwa masuknya Gerindra ke koalisi adalah kebutuhan soliditas nasional yang kuat.

“Itu putusan hak prerogatif Presiden. Seperti yang tadi NasDem bilang, sebagai bangsa kita ini solid. Ini lebih dari bagi-bagi kursi kabinet,” kata Sekjen NasDem, Johnny G Plate, di Kantor DPP NasDem, Jalan RM Soeroso, Menteng, Jakarta Pusat, Selasa (22/10) lalu.

Usai pertemuan dengan PKS kemarin, Paloh mengatakan setiap kemungkinan bisa terjadi dalam politik ke depannya. Termasuk kemungkinan NasDem akan berhadapan dengan pemerintah hingga bekerja sama dengan PKS.

“Bukan masalah, ada kemungkinan akan berhadapan dengan pemerintah atau tidak. Seluruh kemungkinan kan ada saja,” kata Paloh di DPP PKS, Jalan TB Simatupang, Pasar Minggu, Jakarta Selatan, Rabu (30/10) kemarin.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here