Habib Bahar bin Smith menganggap perkataannya dalam ceramah yang menyebut Jokowi ‘banci’ tidak bermaksud menghina. Hal itu diungkapkan oleh kuasa hukum Bahar, Aziz Yanuar, usai mendampingi pemeriksaan kliennya di Bareskrim Polri.

Diketahui potongan ceramah Habib Bahar yang viral pada acara penutupan Maulid Arba’in di Palembang pada 8 Januari 2017 silam membuatnya dilaporkan ke polisi.

Pendiri Majelis Pembela Rasullah itu dilaporkan karena diduga menyebarkan kebencian terhadap Presiden Jokowi. Dalam potongan ceramahnya yang viral, dia menuding Jokowi ‘banci dan datang bulan’.

Akan tetapi menurut Aziz, kata-kata yang digunakan oleh Bahar dalam ceramah tersebut hanyalah sebuah majas atau kiasan.

“Kalau tadi sudah dibantah oleh Habib. Beberapa keterangan-keterangan (yang dianggap) hate speech itu dijelaskan mayoritas berisi majas. Habib mengisi ceramah itu mengandung unsur keagamaan, unsur agama Islam. Harus dilihat dari sisi agama Islam kan,” kata Aziz Yanuar di Bareskrim Polri, Jalan Medan Merdeka Timur, Jakarta Pusat, Kamis (7/12).

Aziz Yanuar Kuasa Hukum Habib Bahar. (Foto: Paulina/kumparan)

Ia mengatakan selama pemeriksaan Habib Bahar juga membawa beberapa kitab untuk menjelaskan maksud dari perkataannya dalam ceramah tersebut. Menurut Bahar, ucapannya dalam ceramah itu tidak ada yang bermaksud menghina karena hanya perumpamaan.

Aziz juga menyangkal jika penggunaan kata banci dianggap menyerang kaum minoritas. Menurutnya kata itu dipilih katena sering digunakan untuk mengungkapkan orang yang tidak berani menghadapi masalah.

Meski Tanpa Orasi, Pendukung Habib Bahar Tetap Menunggu. (Foto: Fachrul Irwinsyah/kumparan)

Aziz juga mengungkapkan, Bahar ditetapkan sebagai tersangka setelah diperiksa lebih dari 13 jam. Meski begitu pimpinan sekaligus pendiri Majelis Pembela Rasullah itu tidak ditahan.

Bahar, kata Aziz, disangkakan melanggar Pasal 45 jo Pasal 28 UU ITE dan Pasal 16 jo Pasal 4 UU Nomor 40 Tahun 2004 tentang Penghapusan Diskriminasi Ras dan Etnis.

Baca Juga: Ditetapkan Tersangka, Habib Bahar Siap Kooperatif Jalani Proses Hukum

Adapun saat berorasi di Reuni 212, Habib Bahar menjelaskan dasar dirinya menyebut Jokowi banci, yakni berdasarkan aksi 411 pada tahun 2016.

Saat itu, kata Bahar, massa beserta ulama sudah berkumpul di depan Istana. Tapi, Jokowi tak kunjung menemui ulama.

“Makanya jangan dipotong, tonton dari awal. Pertama kenapa, ketika 411 jutaan umat islam, ribuan ulama habaib, kiai, berkumpul di Istana untuk menemui, minta keadilan, justru para kiai habaib santri diberondong gas air mata dan Presiden kabur,” jelas Bahar di Monas, Jakarta, Minggu (2/12).

Download dan install aplikasi kumparan dan dapatkan berita terkini Indonesia.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here