Berita terkini terkait Khashoggi. Presiden Amerika Serikat Donald Trump memang telah mengaku yakin jurnalis Jamal Khashoggi tewas dibunuh. Namun Trump masih segan menuruti permintaan Kongres untuk menjatuhkan sanksi atau menghentikan kerja sama dengan Saudi.
Banyak pertimbangan yang disampaikan Trump, salah satunya komitmen Saudi membeli senjata AS senilai ratusan miliar dolar.
Tidak hanya itu saja ada hal lain yang membuat AS bergantung pada Saudi, mulai dari minyak hingga soal konflik di Yaman atau ketegangan dengan Iran.
Berikut 5 sebab yang bikin AS takut menghukum Saudi:
Minyak
Dikutip dari Reuters, sebagai eksportir minyak terbesar dunia, Arab Saudi punya kemampuan membanjiri pasar dengan minyak produksinya untuk menurunkan harga minyak, atau menahan pasokan untuk meningkatkan harga.
Saudi tidak segan-segan melakukannya, seperti yang disampaikan seorang pejabat Riyadh kepada Kantor Berita Saudi, SPA. Dia mengatakan Saudi bisa menghadapi ancaman dengan memainkan pasokan minyak.
AS sebenarnya tidak terlalu bergantung dari impor minyak. Namun jika Saudi meningkatkan harga minyak global, maka perekonomian AS di bawah Trump bisa melambat dan merusak kansnya untuk kembali jadi presiden pada pemilu 2020.

Kilang minyak, Aramco, Arab Saudi

Kilang minyak Aramco di Arab Saudi. (Foto: Reuters/Ahmed Jadallah/File Photo/File Photo)

Naiknya harga minyak juga bisa menguntungkan Iran, menggagalkan rencana AS memangkas pemasukan negara tersebut.
Itulah sebabnya pada September lalu, Trump mengajak Raja Salman berdiskusi soal menjaga stabilitas pasar minyak dan pertumbuhan ekonomi global.
Penjualan Senjata
Kalimat Trump terlihat bimbang ketika ditanya soal hukuman untuk Saudi terkait hilangnya Jamal Khashoggi di Konsulat Saudi, Istanbul, 2 Oktober lalu.
Di satu sisi, Trump mengatakan akan “menghukum dengan keras”. Namun di sisi lain, dia menekankan pentingnya perdagangan senjata dengan Saudi.
Dengan rencana kerja sama pertahanan hingga USD 110 miliar atau lebih dari Rp 1.600 triliun, Saudi menjadi negara pembeli senjata nomor satu bagi AS. Bukan kali ini saja, antara 2013 hingga 2017, pembelian senjata Saudi mencakup 18 persen penjualan senjata AS, berdasarkan data Stockholm International Peace Research Institute.

F-35

Pesawat tempur F-35 milik Amerika Serikat. (Foto: US Marine Corps/Reuters)

Kesepakatan dagang senjata dengan AS, kata Trump, membuka lapangan pekerjaan baru bagi 40 ribu orang. “Saya tidak suka konsep menghentikan investasi USD 110 miliar ke Amerika Serikat,” kata Trump dalam sebuah wawancara awal pekan ini.
Konflik Yaman dan Iran
Walau parlemen AS menentang perang Saudi di Yaman, nyatanya negara itu ikut andil di dalamnya. Militer AS membantu pengisian bahan bakar koalisi tempur Arab di Yaman untuk menggempur pemberontak Houthi.
Beberapa tentara AS juga berada di perbatasan Saudi dan Yaman untuk membantu mengadang serangan roket dari Houthi. Kedua negara juga berbagi informasi intelijen.
Alasan AS membantu Saudi adalah demi membendung pengaruh Iran yang berada di belakang Houthi. Bagi AS, Saudi adalah negara yang paling berpengaruh di Timur Tengah untuk menghadapi ancaman Iran.
Konflik Israel-Palestina
Saudi juga sangat berpengaruh bagi AS dalam menciptakan perdamaian Israel dan Palestina. Bagi AS, dukungan Saudi untuk masalah ini sangat penting.

Bentrokan, Palestina, tentara Israel, perbatasan antara Israel dan Gaza

Bentrokan warga Palestina dan tentara Israel di pagar perbatasan antara Israel dan Gaza. (Foto: Reuters/Mohammed Salem)

Saudi telah menegaskan tidak akan mendukung setiap rencana perdamaian tanpa memperjelas status kota suci Yerusalem dan hak-hak pengungsi Palestina kembali ke tanah mereka yang dicaplok Israel.
Dukungan Saudi perlahan surut setelah Trump memindahkan Kedutaan Besar AS dari Tel Aviv ke Yerusalem. Jika AS menjatuhi sanksi karena kasus Khashoggi, Saudi akan semakin menjauh dari Trump dalam isu Palestina.
Pemberantasan Terorisme
Bagi AS, informasi dari intelijen Saudi soal kelompok terorisme dan rencana serangan luar biasa penting. Intel Saudi mampu mendekati kelompok-kelompok suku di Arab dan memanfaatkan kedekatan kultural dalam mengorek rencana dan keberadaan kelompok teror.
Informasi dari Saudi ini yang berhasil menggagalkan rencana serangan bom bunuh diri di pesawat Detroit pada 2009. Pada 2010, info intelijen Saudi ungkap bom di dalam kotak tinta printer di pesawat dari Dubai menuju Chicago.
AS khawatir jika hubungan dengan Saudi rusak akibat kasus Khashoggi, informasi intelijen tidak akan lagi diperoleh dan keamanan dalam negeri mereka terancam.
Simak terus berita terkini lainnya terkait news, showbiz, bisnis dan bola!

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here